Agent vs workflow: kapan agen benar-benar dibutuhkan
A0 — Fondasi Agent & Lingkungan
Sebelum membangun agen, jawab dulu: apakah masalahmu butuh agen sama sekali? Banyak "agen" di produksi sebenarnya workflow — dan itu tidak masalah.
Workflow = jalur tetap
Workflow menjalankan langkah yang sudah ditentukan penulis: prompt → ringkas → query → jawab. Urutannya statis, tiap langkah bisa diuji sendiri. Contoh: pipeline RAG klasik.
Agent = jalur ditentukan model
Agent memberi model kendali urutan: read → think → act berulang, model yang memutuskan tool mana dipanggil dan kapan berhenti. Berguna saat:
- Jawaban butuh beberapa sumber/aksi yang tidak bisa diprediksi (mis. riset lintas dokumen).
- Ada percabangan berdasarkan hasil eksekusi (coba X, kalau error coba Y).
- Interaksi multi-putaran dengan pengguna/lingkungan.
Trade-off yang jujur
Agent lebih fleksibel tapi lebih mahal (banyak panggilan model), lebih lambat, dan hasilnya lebih sulit diprediksi. Aturan praktis: mulai sebagai workflow; tambahkan loop hanya bila jalur tetap terbukti gagal.
Tugas: ambil 3 fitur AI yang kamu pakai sehari-hari; klasifikasikan setiap fitur sebagai workflow atau agent, dan jelaskan satu kalimat alasannya.